1. Ingat-ingatlah kembali pengalaman yang telah anda alami! 2. Rangkaikan pengalaman anda menjadi sebuah cerpen yang bertolak dari pengalaman itu! 3. Mulailah menulis cerpen! 4. Munculkan hal-hal yang menarik.
Bu, karena jumlah karakternya dibatasi, sehingga, saya hanya bisa menulis kepingan cerpen saya (aseli......anti njiplak, apalagi plagiat). Jika Ibu masih penasaran dengan sambungan cerpen saya, Ibu bisa langsung menghubungi saya.....
* * * Ndaru keluar rumah, dihirupnya udara pagi itu dalam-dalam hingga memenuhi rongga dadanya. Ia tersenyum menyambut pagi.langkah tegapnya menyusuri jalan setapak menuju tempat barunya bekerja. Tangannya yang berotot memanggul sebuah alat yang tadi malam sudah ia persiapkan itu. Setibanya Ndaru berhenti sejenak, sorot matanya menyapu seluruh pemandangan yang ada di sekitarnya. Sebuah areal pemakaman yang cukup luas, beberapa tanahnya berupa gundukan, beberapa lainnya telah disemen—dikeramik, bahkan dibuat sedemikian rupa menyerupai rumah mini, seakan-akan sesuatu yang ada dibawahnya takkan kepanasan di bawah terik, dan takkan kedinginan di bawah siraman air hujan. Sisanya berupa lahan kosong yang terhampar. Ndaru memastikan bahwa tanah yang harus digalinya kali ini tidak salah.
“Ini dia” ia bersorak dalam hati.
Dengan semangat iapun mulai mengayunkan cangkulnya, satu, dua, lima, sepuluh, lima puluh. Ia terus mengayunkan cangkulnya. Ia membuang nafas, namun tak berhenti. Ia harus menyelesaian pekerjaan ini.
Ia tak sadar, bahwa ia mulai jatuh cinta, pada cangkulanya, pada galiannya, pada sebuah lubang besar menganga yang telah dibuatnya. Ia jatuh cinta, dan akan terus mempertahankannya, sebuah hadiah terindah dari ayahnya, sang pewaris kakeknya, dan kakeknya, yang mendapatnya dari kakek buyutnya……..
Matahari merambat naik hingga ke puncaknya. Ndaru mengusir lelah siang ini menuju sebuah masjid kecil, memenuhi panggilan sang muadzin. Ia akan terus di sana, hingga matahari kembali turun, dan senja kala siap memerankan lakonnya.
Nasib pintu kamar pun tak berbeda dengan pintu ruang depan. Terbuka dengan dorongan keras dan kasar, membuyarkan dialog yang berlangsung antara otak dan hatinya. Dengan napas memburu, tangannya mengobrak-abrik meja kayu penuh tumpukan kertas dan buku. Dia tak peduli dengan buku dan kertas yang barjatuhan akibat ulah kasarnya. “Ah…! Akhirnya ketemu juga.” Desisnya sedikit lega. Sedikit, sebab, waktu yang dimiliki tidak banyak. Disekanya keringat yang semakin berkilat di kening untuk mengurangi kegugupan yang terlalu lama menemani. Dipandanginya tulisan di kertas yang sedang dipegangnya. Terbayang di kertas itu seorang dosen killer berkumis lebat dengan sorot mata tajam ingin menelannya bulat-bulat. Siapa yang mau berurusan dengan dia lagi? Mengumpulkan tugas tepat waktu saja masih mendapat omelan dan sanksi kalau penulisannya tidak sesuai dengan keinginannya. Apalagi kalau telat mengumpulkan? Dan, aku? aku mencoba mengingat-ingat. Selalu telat mengumpulkan tugas. Alasannya pun bisa ditebak oleh semua orang. LUPA!
“Oh, Tuhan!” dia menepuk jidat dengan keras. Dia segera tersadar dengan masalah yang menerornya. “Bukankah semua jawaban ini ada di buku Statistika. Dan, bukuku… di mana bukuku??”
Dia empaskan pantatnya di kasur. Kedua tangan pucat itu meremas-remas rambutnya dengan kuat. “Sialan si Roni!” kutuknya kesal. Dengan gusar dia menekan keypad ponsel. Mulutnya mengerucut, dahinya berkerut. Mendengarkan nada ponsel yang hanya berbunyi tut..tut…, Dicobanya sekali lagi.
Tuu…ut. Tuu..ut. Tuu..ut. “Halo!? Eh, Dani. Ke mana pula kau, kok nggak nongol di kampus? Kita lagi…” Tak sempat suara di sebrang meneruskan kalimatnya.
“Hei..! Hei..! Kapan pula aku pinjam bukumu, hah?! Melihatnya pun aku tak pernah!”
“Kapan kau bilang? Siapa yang merengek-rengek minggu lalu setelah kuliah statistik berakhir? Siapa? Emang kucing?!”
“Benar-benar payah kau Dan! Rupanya, kau semakin tua hingga penyakit lupamu kian parah. Ingat-ingatlah yang bener! Atau, jangan-jangan sudah saatnya kau masuk RSJ, biar sembuh. Ha ha ha… !” Klik! Sambungan diputus.
aku memandingi ponselnya kesal. Dipencetnya sekali lagi nomor Roni.
Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang… Klik! Ponsel terlempar di atas bantal. Dia rebahkan badannya. Hatinya melemparkan ratusan kutukan untuk Roni. aku duduk di tepi dipan. Menatap meja belajarnya yang tak pernah rapi. Kertas-kertas berserakan memenuhi meja. Buku-buku tak lagi berdiri tegak karena buku di bagian tengah deretan diambil. aku pun membiarkan buku-buku di sebelahnya ambruk. Sebagian buku itu tampak hampir tidur tertumpuk buku lain di sebelah kirinya. Pasti buku yang seharusnya mengisi dan menyangga buku di sebelah kiri sangat tebal. Oh! Bukankah buku paling tebal miliknya hanya satu! Ya, hanya satu! Dan….
Aha…! Aku ingat sekarang. Aku baru mengambilnya dua hari lalu. Yaitu, ketika akan mengerjakan tugas, namun gagal karena diminta Ayah untuk menemani ibu belanja. Lalu… Lalu… Aaahh! Kepalan tangannya meninju telapak tangan kiri dengan gemas.
Dengan gontai aku menuju meja belajar. Sedikit malas, tangannya mengumpulkan kertas yang memenuhi meja. Kertas-kertas terkumpul dan dipindahkan ke lantai pojok kamar. Dipandanginya meja yang kini bebas dari kertas. Ada perasaan nyaman. Namun, ada sesuatu yang dirasa masih kurang. Yah, mejanya belum bersih benar. Ada beberapa kertas yang terjepit antara tepi meja dengan dinding. aku mencoba menarik beberapa kertas. Tapi, terasa sangat sulit. Dani menarik meja agar menjauh dari tembok.
Brak!!.. Sebuah benda terjatuh dengan berat. Kepala Dani melongok ke bawah meja. “Yess!!.. akhirnya kutemukan buruanku.”
Hari ini Gadis terlhat sangat cantik,dengan baju warana biru yang sangat serasi dengan kulitnya.Duduk di bangku kuliah paling depan..Ketika jam pulang tiba,perlahan-lahan ruangan itu sepi akan penghuni,tinggal Gadis dan sang dosenlah di ruangan itu.Wildan,nama dosen yang mengajar mata kuliah PKN,Tepatnya masalah Norma.
"Sudah 2 hari tak bertemu,kemana aja??..tanya laki-laki itu pada Gadis.Diapun mendekati Gadis,tangannya membalai lembut rambut Gadis yang terurai panjang tanpa di ikat.
"Aku malas."jawab gadis iru singkat.
"Malas,memangnya tak rindu padaku"
"tidak,tidak semenitpun aku bisa berhenti merinduimu"
"malam ini aku tak bisa kerumahmu,Dina mengajakku makan malam"
"Pergilah"
"Kau tak mencegahku"
"Tidak..aku masih punya hati dan perasaan".Gadis itu melengos pada pria itu,di lepasnya tangan lelaki itu dari belaiannya..
"huhahahah.....kau punya hati dan perasaan"tawanya begitu kencang..
"Setidaknya masih ada walau sempat mati.."
"Gadisku,cintaku,belahan jiwaku,kita ini sudah tak punya hati..Kita gadaikan hati kita untuk kenikmatan hidup ini."
"Siapa yang membuat perasaan ini?'Gadis itu menyandarkan dirinya di bahu lelaki itu.
"Kita,kita berdua"Lelaki itu memeluk erat tubuh gadis itu..
"Besok KRIS akan mengajakku berlibur ke Inggris..Kita akan lama tak bertemu"
"Kau masih mau pergi dengan lelaki keparat itu.Kenapa kau mau?bukankah jika kau pergi ku akan kesepian tanpamu"
"setidaknya dia tak sekeparat dirimu,kau telah memabukkanku dengan cintamu,tapi kau tak selalu ada di sampingku.."
"Aku,aku selalu menantimu di sisa hariku,aku selalu berharap kita akan bisa selalu bersama di sepanjang waktu."
"Hahahaha.........ya memangnya lelaki itu mau dikemanakan,kalau aku selalu disampingmu."
"buang ke laut aja,atau di racun tikus....hahaha.."
"Siapa yang mau di salahkan,namanya juga cinta.Walau ku tau kau ada yang memiliki,dan kau tau aku ada yang memiliki.Kita tetap bisa membagi diri.Aku mencintaimu,kau pun mencintaiku."
Saat kehadiran cinta datang pada tempat yang salah,pada orang yang salah,maka cinta itu pun akan berjalan pada jalan yang salah..
"Hari sudah menjelang malam,aku harus pergi,tadi aku alasan musyawarah dengan organisasi"Kata lelaki itu..
"Iya,aku juga bilang sedang ada tugas penting yang harus aku seleseikan""..
"Salam untuk putrimu,setidaknya dia pasti pernah tau kalo aku ayahnya yang sah""
”setiap yang bernyawa akan mati, dan hanya kepada Allah semuanya akan kembali” (Al-Ankabut :57) Kugenggam tangannya.Titian air mata membasuh pipiku. Beribu doa terucap dari setiap hembusan nafasku. Lantunan ayat-ayat suci terdengar lirih dari orang-orang yang duduk bersila disekitarku. Masih kutatap saja wajahnya yang pucat pasi, matanya tertutup rapat seakan pertanda menutup usinya yang telah senja. Diantara kerutan-kerutan kulit wajahnya masih menyisakan raut senyum penuh isyarat, seakan sudah siap dengan jemputan sang malaikat utusan pemilik kehidupan. “Ummiiiiiiiiii….” Suara histeris tiba-tiba terdengar diantara keharuan suasana ruang tamu yang sedang aku duduki beserta keluarga yang lainnya. Ternyata si Uwa baru datang dari Sumedang setelah di telepon mang Ujang bada Ashar sore tadi, tepat 1 menit setelah Ummi menghembuskan nafas terahirnya.Pemandangan kembali terlihat haru saat si uwa memeluk Ummi sambil meneteskan air mata. Semoga saja adegan seperti ini tidak hanya terjadi sesaat, dan tidak lama kemudian, keluarga akan segera benar-benar melupakan Ummi dan menjalani kehidupan sehari-harinya seperti biasa. Sanak keluarga hanya akan datang mengunjungi kuburannya pada saat tertentu, mungkin saat menjelang lebaran atau hari lain dimana mereka memiliki waktu luang untuk berziarah. Sungguh jangan pernah terjadi di keluarga ini hal yang seperti itu. Semoga saja Allah akan menerima setiap amal kebaikan Ummi semasa hidup di dunia dan menjadikannya bekal di kehidupan yang abadi kelak. Bagi keluarga yang di tinggalkan termasuk aku semoga ini menjadi cobaan yang dapat aku lewati bersama keluarga dan dapat dimasukan kedalam golongan orang-orang yang sabar. ”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari tuhan mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah :155 – 157) Akhirnya, aku memohon kepada Allah swt. Agar memberikan kesabaran dan kemantapan hati untuk keluarga semua di saat mendapatkan cobaan.Wallahu a’lam. Ketika waktu telah menjemputtidaklah akan ada yang sekali-kali dapat mensiasati mautMaka wahai Dzat yang maha pengampun Ampunilah aku atas dosa-dosaku dan selamatkan aku dari siksa nerakaWahai yang hidup, yang menghidupiAku menyeru-Mu wahai tuhan para malaikat dan ruh yang suciHari ini ku bersimpuh di haribaan-MuSeluruh asaku tertumpu pada aliran karunia-MuDihadapanku jelas terlihat kuasa-Mu ya RabbiJika sudah kehendak-Mu tak satupun dapat berlariItulah kematian, tidak mungkin ada tempat menghindar dari-NyaTak dapat di pungkiri kelak tiba bagianku menghadap pada-Nya
ini buw tugas saya Dari sinar matanya, kulihat dia lebih tersiksa menanggung masalahnya, dibanding siksa batinku mengidamkan Redo. Ternyata terlalu sempurna seperti Kiki, bukan jaminan kebahagiaan.
Tidur siangku akhirnya terganggu lagi. Ini bukan hari pertama aku mengalami kejadian serupa. Kalau bukan deringan telepon yang meminta tolong ingin diangkat, mungkin suara tivi yang lebih dari penerimaan manusia normal, atau bahkan suara-suara orang ngerumpi di ruang tamu. Apapun alasannya, aku tak boleh marah. Ini resiko teringan yang harus ditanggung saat papa meninggal, dan mama memilih merenovasi rumah menjadi rumah kos. Awalnya aku menolak, dengan alasan gangguan seperti ini, tapi gaji papa yang harus setara dengan gaji pensiunan, mana cukup untuk menanggung sekolahku, bahkan hidupku bersama mama yang tak punya kerja.
Kali ini bukan karena deringan telepon, suara tivi, ataupun suara orang ngerumpi. Tapi karena rumah kosku kedatangan penghuni baru lagi. Sudah tradisi, setiap ada penghuni baru, pasti disambut dengan senyum, bantu angkat-aangkat barang, lalu perkenalan..
“Gimana nggak kesel. Coba bayangin, tengah malam saya harus bangun karena suara HP. Pas saya angkat, nggak ada jawaban. Ngeganggu orang tidur saja,” terang Rehan panjang lebar. Temannya hanya manggut-manggut tahu paham apa nggak.
Kawan, barulah kutahu, ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan! Pahit memang. Seseorang yang begitu kucintai dengan tulus, akhirnya harus kurelakan jadian dengan cewek lain! Cukup aku saja yang mengalaminya, kawan. Karena kupikir, bila kalian yang merasakannya, bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, sungguh begitu teramat nyerinya hati ini. Nyeri, senyeri-nyerinya! Kurasa, biarlah aku saja yang merasakannya, bagaimana cinta bertepuk sebelah tangan terjadi menimpaku. Karena aku takut, bila kalian merasakan hal yang sama, kalian akan berpikir sama sepertiku. Bahwa hidup di dunia ini hanyalah tahi kucing! Sungguh kawan! Aku merasakannya sendiri. Hidup serasa tidak berarti lagi! Coba kawan kalian pikir, seseorang yang kalian harapkan, seseorang yang kalian puja-puja, seseorang yang hanya ada di hati dan tidak seorangpun selain dirinya, terlintas dalam khayal kalian, seseorang yang begitu sangat kalian cintai, ternyata cintanya untuk orang lain! Edan tenan, bukan? Sungguh menyebalkan sekali, bukan? Hati ini seperti ditusuk-tusuk belati, lalu disiram pake cuka, lantas dijemur di tengah terik matahari! Hwaaahhh....! Maaf, aku agak emosi menuliskan semua ini. Wajarlah kalau aku naik darah, kawan. Barangkali karena sebelum ini, aku merasa bahwa hubungan aku dengannya sudah saling mencintai. Dan bila akhirnya yang kudengar adalah sebaliknya, sudah sewajarnya bukan, bila aku agak sedikit kehilangan kendali. Sejak aku tahu bahwa ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan, mendadak aku jadi membencinya! Namun begitu, bila kuingat hari-hari yang teramat manis saat bersama dengannya, airmataku begitu derasnya mengalir. Seperti air mancur di bundaran HI. Sungguh kawan. “Gimana nggak kesel. Coba bayangin, tengah malam saya harus bangun karena suara HP. Pas saya angkat, nggak ada jawaban. Ngeganggu orang tidur saja,” terang Rehan panjang lebar. Temannya hanya manggut-manggut tahu paham apa nggak... Akan tetapi, meskipun dengan sekuat jiwa dan raga ini kutahan-tahan, aku tetap tak mampu membendung laju airmataku! Setiap kali mengenang masa-masa indah bersamanya, airmata ini muncrat dengan sendirinya. Dan nyeri di hati semakin menjadi-jadi. Andre, cowok berparas biasa-biasa saja, yang sudah hampir lima tahun selalu menemani hari-hariku itu, ternyata tidak mencintaiku! Ia justru memilih cewek lain untuk ia jadikan sebagai teman spesialnya. Padahal, aku begitu mengharapkannya. Aku telah bersumpah pada diriku sendiri, demi langit dan bumi, bahwa dialah cowok yang ada di hati ini. Aku tak pernah memedulikan cowok lain selain dirinya. Terbukti, selama lima tahun ini, sejak aku dan dia masih sering bersama-sama, aku tak pernah memedulikan cowok lain. Berpuluh-puluh cowok kutolak cintanya mentah-mentah. Kenapa? Apalagi sebabnya, kalau bukan karena aku hanya mencintai dirinya seorang, kawan? Bagaimana tidak gantengnya cowok bernama Alto, cowok senior yang nyembah-nyembah aku untuk ia jadikan gebetannya. Aku menolak cintanya baik-baik. Kukatakan padanya, bahwa aku sudah ada yang punya, meski waktu itu tidak dengan jelas kusebut siapa yang punya. Dan tentu Alto mengerti, keakraban aku dan Andre tak bisa dipisahkan lagi! Alto menerimanya dengan lapang dada, mendoakan semoga aku dan Andre bahagia selamanya!
bu ini tugas hayatunnupus Suatu Sore, di Bawah Tiang Bendera
Keringat mengalir deras di tubuhnya yang hitam. Butiran-butiran putih tersebut menggelinding seperti air hujan yang terhempas pada batu hitam mengkilat. Terik matahari tidak di pedulikannya, hatinya yang hangus lebih tersiksa dari jasadnya yang kini bermandikan panas matahari. Seandainya ia perempuan, pasti ia juga akan menangis, tapi ia laki-laki. Laki-laki yang sudah biasa terhempas, disudutkan keadaan, di tikam kenyataan yang pahit. Perjuangannya tiga tahun ini berujung pada kekecewaan yang sangat menggoncangkan jiwanya. Dua buah kata berbunyi “Tidak Lulus” yang tertulis di kertas pengumuman kemaren menghanyutkan puing-puing harapannya selama ini.
Dua kata tersebut menari-nari dengan lincah di kepalanya, selincah tangannya mengayunkan cangkul di lahan miring tempat ia menanam tanaman muda sejak tiga tahun yang lalu. Ia dilahirkan di sebuah perkampungan kecil Si Mandi Angin, 67 km dari desa Tambusai, kecamatan Tambusai, kabupaten Rohul, Riau, tempat ia bersekolah. Secara ekonomi, orang tuanya yang bekerja sebagai buruh harian tidak mampu untuk membiayai sekolahnya, tambah lagi kedua orang tuanya menganggap pendidikan hanyalah formalitas untuk orang-orang berada saja.
“Sekolah pun ujung-ujungnya bakal jadi kuli juga toh…,” nasehat yang mumpuni dari emaknya ketika ia mengemasi beberapa helai pakaian dan ijazahnya ke dalam kardus mie, di suatu pagi ketika ia akan berangkat ke Tambusai melanjutkan pendidikannya. Dalam hati ia yakin dengan pendidikan ia bisa merobah nasibnya dan Tuhan pasti mendengar doa pengembara yang sedang menuntut ilmu. Maka berangkatlah ia pagi itu dengan tatapan lusuh bapaknya yang karatan jadi kuli perkebunan toke-toke bermata sipit dari Pekanbaru.
Nasib baik menemani langkahnya. Tidak hanya diterima ia di sekolah tersebut, kepala sekolah juga memberinya pekerjaan sebagai penjaga sekolah. Ia adalah angkatan pertama dari SMA N 4 Tambusai tersebut. Pulang sekolah, dengan rajin ia membersihkan pekarangan sekolah dan pagi-pagi sebelum belajar dimulai ia menyapu lantai kelas dan kantor guru. Lahan kosong di belakang kelas yang dulunya ditumbuhi gulma disulapnya menjadi lahan produktif. Ia menanam ubi kayu, cabe rawit dan jagung bergantian. Hasilnya ia bagi dua dengan pihak sekolah. Lumayan juga penghasilannya, tiap bulan ia juga menerima honor sebagai penjaga sekolah.
Otaknya memang pas-pasan, kalau tidak boleh dibilang bodoh. Tapi semangatnya dalam mengikuti pelajaran sangat tinggi. Guru-guru yang belum seberapa, maklum sekolah baru, sangat menyayanginya. Rasa sayang sebatas manusia yang memiliki hati nurani, sebab untuk lebih dari itu, di luar kemampuan mereka juga. Mereka tidak bisa memberikan materi pelajaran sebagaimana yang dianjurkan pemerintah. Alat penunjang belajar sangat kurang, boleh dikatakan tidak ada. Sebab yang tersedia hanya ruangan kelas dan stempel dari diknas bahwa sekolah ini sudah boleh beroperasi. Buku-buku pelajaran, jauh panggang dari api.
satu-waktu-tiga-hatiSisa-sisa hujan belum juga reda. Aku mengulurkan tangan melewati cucuran atap. Membiarkan rintik-rintik hujan berebut singgah di telapak tangan. Hiruk pikuk asap dari secangkir capucino tersaji di atas meja lesehan. Aku memalingkan pandangan. Lalu menatap Jumi.
“Aku mengatakannya karena aku tidak mampu lagi untuk menahannya. Semakin sakit jika harus terus dipendam. Terlalu cepat, Fik?” suara Jumi bergetar. Persis seperti getar-getar cinta yang saat ini memenuhi seluruh nadinya. Jumi menatapku, mengharapkan jawaban. Jawaban dari akhir ceritanya di lesehan ini. Seteguk capucino menghangatkan tenggorokanku. Aku menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutku. Berharap Jumi puas dengan jawabanku. Ia sedikit terhibur.
Lama-lama lesehan ini ramai dikunjungi orang. Dua jam sudah kami di sini. Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku lihat di layarnya. Tertera nama Gugun. Tanganku sedikit gemetar. Sebentar aku melihat Jumi. Gejolak rasa bersalah menguliti tubuhku. Lebih-lebih ketika Jumi mengutarakan seluruh perasaannya tentang Gugun kepadaku. Gugun masih terus memanggil. Sedikit gugup, aku sedikit menjauh dari Jumi. Berusaha agar ia tidak mendengar semua perbincanganku dengan Gugun. “Jum! Tunggu sebentar, yach! Dari kakak!” kataku pada Jumi sambil meninggalkannya. Tentunya ia percaya dengan kebohonganku. “Halo Gun!” sedikit ketakutan, aku mengecilkan suara. “Fika! Tugas Metode Penelitian sudah siap? Aku kurang paham. Tolong ajarkan, Fik!” “A..a…ku?” tanyaku gugup ‘Ia! Please!” jawabnya dengan penuh harap “T…ta…ta…pi, aku rasa Gugun lebih paham dari aku!” “Please, Fik! Aku nggak paham Metode Penelitian!” “Ok, di pustaka wilayah, besok, jam 1!” sambungku tanpa ada keraguan. “Ok, my friend!” **** Jumi masih menikmati pandangannya yang hampa akan tujuan. Sedari tadi ia hanya membelai-belai gelas capucino itu. Belum seteguk pun diminumnya. “Jum, ikut nggak belajar sama…” Sebuah petir besar menyambar. Mengejutkan semua pengunjung lesehan. Termasuk aku dan Jumi. Kami menyaksikan beberapa pengunjung lesehan yang gaduh. “Belajar? Belajar sama siapa?” Jumi melanjutkan kata-kataku yang belum selesai. “Belajar…belajar…yach belajar!” jawabku gugup “Tadi katanya belajar sama…” “Maksud aku, kita belajar sama-sama!” Aku menjadi seorang pembohong ulung di keadaan ini. Berharap Jumi percaya dengan kata-kataku yang sedikit gugup. “Apalagi minggu depan kita semester, nggak apa-apalah sesekali kita belajar bareng!” sambungku. Jumi menganggukkan kepalanya. Sedikit keberuntungan berpihak padaku. Jumi percaya. Untungnya, ia tidak meminta waktu belajarnya esok. ****
ok zelamat ya...ntar zoba laghi
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBu, karena jumlah karakternya dibatasi, sehingga, saya hanya bisa menulis kepingan cerpen saya (aseli......anti njiplak, apalagi plagiat). Jika Ibu masih penasaran dengan sambungan cerpen saya, Ibu bisa langsung menghubungi saya.....
BalasHapus* * *
Ndaru keluar rumah, dihirupnya udara pagi itu dalam-dalam hingga memenuhi rongga dadanya. Ia tersenyum menyambut pagi.langkah tegapnya menyusuri jalan setapak menuju tempat barunya bekerja. Tangannya yang berotot memanggul sebuah alat yang tadi malam sudah ia persiapkan itu. Setibanya Ndaru berhenti sejenak, sorot matanya menyapu seluruh pemandangan yang ada di sekitarnya. Sebuah areal pemakaman yang cukup luas, beberapa tanahnya berupa gundukan, beberapa lainnya telah disemen—dikeramik, bahkan dibuat sedemikian rupa menyerupai rumah mini, seakan-akan sesuatu yang ada dibawahnya takkan kepanasan di bawah terik, dan takkan kedinginan di bawah siraman air hujan. Sisanya berupa lahan kosong yang terhampar. Ndaru memastikan bahwa tanah yang harus digalinya kali ini tidak salah.
“Ini dia” ia bersorak dalam hati.
Dengan semangat iapun mulai mengayunkan cangkulnya, satu, dua, lima, sepuluh, lima puluh. Ia terus mengayunkan cangkulnya. Ia membuang nafas, namun tak berhenti. Ia harus menyelesaian pekerjaan ini.
Ia tak sadar, bahwa ia mulai jatuh cinta, pada cangkulanya, pada galiannya, pada sebuah lubang besar menganga yang telah dibuatnya. Ia jatuh cinta, dan akan terus mempertahankannya, sebuah hadiah terindah dari ayahnya, sang pewaris kakeknya, dan kakeknya, yang mendapatnya dari kakek buyutnya……..
Matahari merambat naik hingga ke puncaknya. Ndaru mengusir lelah siang ini menuju sebuah masjid kecil, memenuhi panggilan sang muadzin. Ia akan terus di sana, hingga matahari kembali turun, dan senja kala siap memerankan lakonnya.
demam statistik
BalasHapusBrak!!…
Nasib pintu kamar pun tak berbeda dengan pintu ruang depan. Terbuka dengan dorongan keras dan kasar, membuyarkan dialog yang berlangsung antara otak dan hatinya. Dengan napas memburu, tangannya mengobrak-abrik meja kayu penuh tumpukan kertas dan buku. Dia tak peduli dengan buku dan kertas yang barjatuhan akibat ulah kasarnya.
“Ah…! Akhirnya ketemu juga.” Desisnya sedikit lega. Sedikit, sebab, waktu yang dimiliki tidak banyak. Disekanya keringat yang semakin berkilat di kening untuk mengurangi kegugupan yang terlalu lama menemani. Dipandanginya tulisan di kertas yang sedang dipegangnya. Terbayang di kertas itu seorang dosen killer berkumis lebat dengan sorot mata tajam ingin menelannya bulat-bulat. Siapa yang mau berurusan dengan dia lagi? Mengumpulkan tugas tepat waktu saja masih mendapat omelan dan sanksi kalau penulisannya tidak sesuai dengan keinginannya. Apalagi kalau telat mengumpulkan? Dan, aku? aku mencoba mengingat-ingat. Selalu telat mengumpulkan tugas. Alasannya pun bisa ditebak oleh semua orang. LUPA!
“Oh, Tuhan!” dia menepuk jidat dengan keras. Dia segera tersadar dengan masalah yang menerornya. “Bukankah semua jawaban ini ada di buku Statistika. Dan, bukuku… di mana bukuku??”
Dia empaskan pantatnya di kasur. Kedua tangan pucat itu meremas-remas rambutnya dengan kuat. “Sialan si Roni!” kutuknya kesal. Dengan gusar dia menekan keypad ponsel. Mulutnya mengerucut, dahinya berkerut. Mendengarkan nada ponsel yang hanya berbunyi tut..tut…, Dicobanya sekali lagi.
Tuu…ut. Tuu..ut. Tuu..ut. “Halo!? Eh, Dani. Ke mana pula kau, kok nggak nongol di kampus? Kita lagi…” Tak sempat suara di sebrang meneruskan kalimatnya.
“Hei..! Hei..! Kapan pula aku pinjam bukumu, hah?! Melihatnya pun aku tak pernah!”
“Kapan kau bilang? Siapa yang merengek-rengek minggu lalu setelah kuliah statistik berakhir? Siapa? Emang kucing?!”
“Benar-benar payah kau Dan! Rupanya, kau semakin tua hingga penyakit lupamu kian parah. Ingat-ingatlah yang bener! Atau, jangan-jangan sudah saatnya kau masuk RSJ, biar sembuh. Ha ha ha… !” Klik! Sambungan diputus.
aku memandingi ponselnya kesal. Dipencetnya sekali lagi nomor Roni.
Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang… Klik! Ponsel terlempar di atas bantal. Dia rebahkan badannya. Hatinya melemparkan ratusan kutukan untuk Roni. aku duduk di tepi dipan. Menatap meja belajarnya yang tak pernah rapi. Kertas-kertas berserakan memenuhi meja. Buku-buku tak lagi berdiri tegak karena buku di bagian tengah deretan diambil. aku pun membiarkan buku-buku di sebelahnya ambruk. Sebagian buku itu tampak hampir tidur tertumpuk buku lain di sebelah kirinya. Pasti buku yang seharusnya mengisi dan menyangga buku di sebelah kiri sangat tebal. Oh! Bukankah buku paling tebal miliknya hanya satu! Ya, hanya satu! Dan….
Aha…! Aku ingat sekarang. Aku baru mengambilnya dua hari lalu. Yaitu, ketika akan mengerjakan tugas, namun gagal karena diminta Ayah untuk menemani ibu belanja. Lalu… Lalu… Aaahh! Kepalan tangannya meninju telapak tangan kiri dengan gemas.
Dengan gontai aku menuju meja belajar. Sedikit malas, tangannya mengumpulkan kertas yang memenuhi meja. Kertas-kertas terkumpul dan dipindahkan ke lantai pojok kamar. Dipandanginya meja yang kini bebas dari kertas. Ada perasaan nyaman. Namun, ada sesuatu yang dirasa masih kurang. Yah, mejanya belum bersih benar. Ada beberapa kertas yang terjepit antara tepi meja dengan dinding. aku mencoba menarik beberapa kertas. Tapi, terasa sangat sulit. Dani menarik meja agar menjauh dari tembok.
Brak!!.. Sebuah benda terjatuh dengan berat. Kepala Dani melongok ke bawah meja. “Yess!!.. akhirnya kutemukan buruanku.”
ass. buw ini tugas novi
BalasHapusHari ini Gadis terlhat sangat cantik,dengan baju warana biru yang sangat serasi dengan kulitnya.Duduk di bangku kuliah paling depan..Ketika jam pulang tiba,perlahan-lahan ruangan itu sepi akan penghuni,tinggal Gadis dan sang dosenlah di ruangan itu.Wildan,nama dosen yang mengajar mata kuliah PKN,Tepatnya masalah Norma.
"Sudah 2 hari tak bertemu,kemana aja??..tanya laki-laki itu pada Gadis.Diapun mendekati Gadis,tangannya membalai lembut rambut Gadis yang terurai panjang tanpa di ikat.
"Aku malas."jawab gadis iru singkat.
"Malas,memangnya tak rindu padaku"
"tidak,tidak semenitpun aku bisa berhenti merinduimu"
"malam ini aku tak bisa kerumahmu,Dina mengajakku makan malam"
"Pergilah"
"Kau tak mencegahku"
"Tidak..aku masih punya hati dan perasaan".Gadis itu melengos pada pria itu,di lepasnya tangan lelaki itu dari belaiannya..
"huhahahah.....kau punya hati dan perasaan"tawanya begitu kencang..
"Setidaknya masih ada walau sempat mati.."
"Gadisku,cintaku,belahan jiwaku,kita ini sudah tak punya hati..Kita gadaikan hati kita untuk kenikmatan hidup ini."
"Siapa yang membuat perasaan ini?'Gadis itu menyandarkan dirinya di bahu lelaki itu.
"Kita,kita berdua"Lelaki itu memeluk erat tubuh gadis itu..
"Besok KRIS akan mengajakku berlibur ke Inggris..Kita akan lama tak bertemu"
"Kau masih mau pergi dengan lelaki keparat itu.Kenapa kau mau?bukankah jika kau pergi ku akan kesepian tanpamu"
"setidaknya dia tak sekeparat dirimu,kau telah memabukkanku dengan cintamu,tapi kau tak selalu ada di sampingku.."
"Aku,aku selalu menantimu di sisa hariku,aku selalu berharap kita akan bisa selalu bersama di sepanjang waktu."
"Hahahaha.........ya memangnya lelaki itu mau dikemanakan,kalau aku selalu disampingmu."
"buang ke laut aja,atau di racun tikus....hahaha.."
"Siapa yang mau di salahkan,namanya juga cinta.Walau ku tau kau ada yang memiliki,dan kau tau aku ada yang memiliki.Kita tetap bisa membagi diri.Aku mencintaimu,kau pun mencintaiku."
Saat kehadiran cinta datang pada tempat yang salah,pada orang yang salah,maka cinta itu pun akan berjalan pada jalan yang salah..
"Hari sudah menjelang malam,aku harus pergi,tadi aku alasan musyawarah dengan organisasi"Kata lelaki itu..
"Iya,aku juga bilang sedang ada tugas penting yang harus aku seleseikan""..
"Salam untuk putrimu,setidaknya dia pasti pernah tau kalo aku ayahnya yang sah""
"Tentu.Sampai jumpa lagi"
ketika waktu menjemput
BalasHapus”setiap yang bernyawa akan mati, dan hanya kepada Allah semuanya akan kembali” (Al-Ankabut :57)
Kugenggam tangannya.Titian air mata membasuh pipiku. Beribu doa terucap dari setiap hembusan nafasku. Lantunan ayat-ayat suci terdengar lirih dari orang-orang yang duduk bersila disekitarku. Masih kutatap saja wajahnya yang pucat pasi, matanya tertutup rapat seakan pertanda menutup usinya yang telah senja. Diantara kerutan-kerutan kulit wajahnya masih menyisakan raut senyum penuh isyarat, seakan sudah siap dengan jemputan sang malaikat utusan pemilik kehidupan.
“Ummiiiiiiiiii….” Suara histeris tiba-tiba terdengar diantara keharuan suasana ruang tamu yang sedang aku duduki beserta keluarga yang lainnya. Ternyata si Uwa baru datang dari Sumedang setelah di telepon mang Ujang bada Ashar sore tadi, tepat 1 menit setelah Ummi menghembuskan nafas terahirnya.Pemandangan kembali terlihat haru saat si uwa memeluk Ummi sambil meneteskan air mata. Semoga saja adegan seperti ini tidak hanya terjadi sesaat, dan tidak lama kemudian, keluarga akan segera benar-benar melupakan Ummi dan menjalani kehidupan sehari-harinya seperti biasa. Sanak keluarga hanya akan datang mengunjungi kuburannya pada saat tertentu, mungkin saat menjelang lebaran atau hari lain dimana mereka memiliki waktu luang untuk berziarah. Sungguh jangan pernah terjadi di keluarga ini hal yang seperti itu.
Semoga saja Allah akan menerima setiap amal kebaikan Ummi semasa hidup di dunia dan menjadikannya bekal di kehidupan yang abadi kelak. Bagi keluarga yang di tinggalkan termasuk aku semoga ini menjadi cobaan yang dapat aku lewati bersama keluarga dan dapat dimasukan kedalam golongan orang-orang yang sabar.
”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari tuhan mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah :155 – 157)
Akhirnya, aku memohon kepada Allah swt. Agar memberikan kesabaran dan kemantapan hati untuk keluarga semua di saat mendapatkan cobaan.Wallahu a’lam.
Ketika waktu telah menjemputtidaklah akan ada yang sekali-kali dapat mensiasati mautMaka wahai Dzat yang maha pengampun Ampunilah aku atas dosa-dosaku dan selamatkan aku dari siksa nerakaWahai yang hidup, yang menghidupiAku menyeru-Mu wahai tuhan para malaikat dan ruh yang suciHari ini ku bersimpuh di haribaan-MuSeluruh asaku tertumpu pada aliran karunia-MuDihadapanku jelas terlihat kuasa-Mu ya RabbiJika sudah kehendak-Mu tak satupun dapat berlariItulah kematian, tidak mungkin ada tempat menghindar dari-NyaTak dapat di pungkiri kelak tiba bagianku menghadap pada-Nya
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusini buw tugas saya
BalasHapusDari sinar matanya, kulihat dia lebih tersiksa menanggung masalahnya, dibanding siksa batinku mengidamkan Redo. Ternyata terlalu sempurna seperti Kiki, bukan jaminan kebahagiaan.
Tidur siangku akhirnya terganggu lagi. Ini bukan hari pertama aku mengalami kejadian serupa. Kalau bukan deringan telepon yang meminta tolong ingin diangkat, mungkin suara tivi yang lebih dari penerimaan manusia normal, atau bahkan suara-suara orang ngerumpi di ruang tamu. Apapun alasannya, aku tak boleh marah. Ini resiko teringan yang harus ditanggung saat papa meninggal, dan mama memilih merenovasi rumah menjadi rumah kos. Awalnya aku menolak, dengan alasan gangguan seperti ini, tapi gaji papa yang harus setara dengan gaji pensiunan, mana cukup untuk menanggung sekolahku, bahkan hidupku bersama mama yang tak punya kerja.
Kali ini bukan karena deringan telepon, suara tivi, ataupun suara orang ngerumpi. Tapi karena rumah kosku kedatangan penghuni baru lagi. Sudah tradisi, setiap ada penghuni baru, pasti disambut dengan senyum, bantu angkat-aangkat barang, lalu perkenalan..
PUPUS
BalasHapus“Gimana nggak kesel. Coba bayangin, tengah malam saya harus bangun karena suara HP. Pas saya angkat, nggak ada jawaban. Ngeganggu orang tidur saja,” terang Rehan panjang lebar. Temannya hanya manggut-manggut tahu paham apa nggak.
Kawan, barulah kutahu, ternyata cintaku bertepuk
sebelah tangan! Pahit memang. Seseorang yang begitu kucintai dengan tulus, akhirnya harus kurelakan jadian dengan cewek lain! Cukup aku saja yang mengalaminya, kawan. Karena kupikir, bila kalian yang merasakannya, bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, sungguh begitu teramat nyerinya hati ini. Nyeri, senyeri-nyerinya!
Kurasa, biarlah aku saja yang merasakannya, bagaimana cinta bertepuk sebelah tangan terjadi menimpaku.
Karena aku takut, bila kalian merasakan hal yang
sama, kalian akan berpikir sama sepertiku. Bahwa
hidup di dunia ini hanyalah tahi kucing! Sungguh
kawan! Aku merasakannya sendiri. Hidup serasa tidak berarti lagi!
Coba kawan kalian pikir, seseorang yang kalian
harapkan, seseorang yang kalian puja-puja, seseorang yang hanya ada di hati dan tidak seorangpun selain dirinya, terlintas dalam khayal kalian, seseorang yang begitu sangat kalian cintai, ternyata cintanya untuk orang lain! Edan tenan, bukan? Sungguh menyebalkan sekali, bukan? Hati ini seperti ditusuk-tusuk belati, lalu disiram pake cuka, lantas dijemur di tengah terik matahari! Hwaaahhh....!
Maaf, aku agak emosi menuliskan semua ini. Wajarlah kalau aku naik darah, kawan. Barangkali karena sebelum ini, aku merasa bahwa hubungan aku dengannya sudah saling mencintai. Dan bila akhirnya yang kudengar adalah sebaliknya, sudah sewajarnya bukan, bila aku agak sedikit kehilangan kendali.
Sejak aku tahu bahwa ternyata cintaku bertepuk
sebelah tangan, mendadak aku jadi membencinya! Namun begitu, bila kuingat hari-hari yang teramat manis saat bersama dengannya, airmataku begitu derasnya mengalir. Seperti air mancur di bundaran HI. Sungguh kawan.
“Gimana nggak kesel. Coba bayangin, tengah
malam saya harus bangun karena suara HP. Pas saya angkat, nggak ada jawaban. Ngeganggu orang tidur saja,” terang Rehan panjang lebar. Temannya hanya manggut-manggut tahu paham apa nggak...
Akan tetapi, meskipun dengan sekuat jiwa dan raga ini kutahan-tahan, aku tetap tak mampu membendung laju airmataku! Setiap kali mengenang masa-masa indah bersamanya, airmata ini muncrat dengan sendirinya. Dan nyeri di hati semakin menjadi-jadi.
Andre, cowok berparas biasa-biasa saja, yang sudah hampir lima tahun selalu menemani hari-hariku itu, ternyata tidak mencintaiku! Ia justru memilih cewek lain untuk ia jadikan sebagai teman spesialnya.
Padahal, aku begitu mengharapkannya. Aku telah
bersumpah pada diriku sendiri, demi langit dan bumi, bahwa dialah cowok yang ada di hati ini. Aku tak pernah memedulikan cowok lain selain dirinya. Terbukti, selama lima tahun ini, sejak aku dan dia masih sering bersama-sama, aku tak pernah memedulikan
cowok lain. Berpuluh-puluh cowok kutolak cintanya
mentah-mentah. Kenapa? Apalagi sebabnya, kalau bukan karena aku hanya mencintai dirinya seorang, kawan?
Bagaimana tidak gantengnya cowok bernama Alto, cowok senior yang nyembah-nyembah aku untuk ia jadikan gebetannya. Aku menolak cintanya baik-baik. Kukatakan padanya, bahwa aku sudah ada yang punya, meski waktu itu tidak dengan jelas kusebut siapa yang punya. Dan tentu Alto mengerti, keakraban aku dan Andre tak bisa dipisahkan lagi! Alto menerimanya dengan lapang dada,
mendoakan semoga aku dan Andre bahagia selamanya!
bu ini tugas hayatunnupus
BalasHapusSuatu Sore, di Bawah Tiang Bendera
Keringat mengalir deras di tubuhnya yang hitam. Butiran-butiran putih tersebut menggelinding seperti air hujan yang terhempas pada batu hitam mengkilat. Terik matahari tidak di pedulikannya, hatinya yang hangus lebih tersiksa dari jasadnya yang kini bermandikan panas matahari. Seandainya ia perempuan, pasti ia juga akan menangis, tapi ia laki-laki. Laki-laki yang sudah biasa terhempas, disudutkan keadaan, di tikam kenyataan yang pahit. Perjuangannya tiga tahun ini berujung pada kekecewaan yang sangat menggoncangkan jiwanya. Dua buah kata berbunyi “Tidak Lulus” yang tertulis di kertas pengumuman kemaren menghanyutkan puing-puing harapannya selama ini.
Dua kata tersebut menari-nari dengan lincah di kepalanya, selincah tangannya mengayunkan cangkul di lahan miring tempat ia menanam tanaman muda sejak tiga tahun yang lalu. Ia dilahirkan di sebuah perkampungan kecil Si Mandi Angin, 67 km dari desa Tambusai, kecamatan Tambusai, kabupaten Rohul, Riau, tempat ia bersekolah. Secara ekonomi, orang tuanya yang bekerja sebagai buruh harian tidak mampu untuk membiayai sekolahnya, tambah lagi kedua orang tuanya menganggap pendidikan hanyalah formalitas untuk orang-orang berada saja.
“Sekolah pun ujung-ujungnya bakal jadi kuli juga toh…,” nasehat yang mumpuni dari emaknya ketika ia mengemasi beberapa helai pakaian dan ijazahnya ke dalam kardus mie, di suatu pagi ketika ia akan berangkat ke Tambusai melanjutkan pendidikannya. Dalam hati ia yakin dengan pendidikan ia bisa merobah nasibnya dan Tuhan pasti mendengar doa pengembara yang sedang menuntut ilmu. Maka berangkatlah ia pagi itu dengan tatapan lusuh bapaknya yang karatan jadi kuli perkebunan toke-toke bermata sipit dari Pekanbaru.
Nasib baik menemani langkahnya. Tidak hanya diterima ia di sekolah tersebut, kepala sekolah juga memberinya pekerjaan sebagai penjaga sekolah. Ia adalah angkatan pertama dari SMA N 4 Tambusai tersebut. Pulang sekolah, dengan rajin ia membersihkan pekarangan sekolah dan pagi-pagi sebelum belajar dimulai ia menyapu lantai kelas dan kantor guru. Lahan kosong di belakang kelas yang dulunya ditumbuhi gulma disulapnya menjadi lahan produktif. Ia menanam ubi kayu, cabe rawit dan jagung bergantian. Hasilnya ia bagi dua dengan pihak sekolah. Lumayan juga penghasilannya, tiap bulan ia juga menerima honor sebagai penjaga sekolah.
Otaknya memang pas-pasan, kalau tidak boleh dibilang bodoh. Tapi semangatnya dalam mengikuti pelajaran sangat tinggi. Guru-guru yang belum seberapa, maklum sekolah baru, sangat menyayanginya. Rasa sayang sebatas manusia yang memiliki hati nurani, sebab untuk lebih dari itu, di luar kemampuan mereka juga. Mereka tidak bisa memberikan materi pelajaran sebagaimana yang dianjurkan pemerintah. Alat penunjang belajar sangat kurang, boleh dikatakan tidak ada. Sebab yang tersedia hanya ruangan kelas dan stempel dari diknas bahwa sekolah ini sudah boleh beroperasi. Buku-buku pelajaran, jauh panggang dari api.
bu ini tugas widuri
BalasHapusSatu Waktu Tiga Hati
satu-waktu-tiga-hatiSisa-sisa hujan belum juga reda. Aku mengulurkan tangan melewati cucuran atap. Membiarkan rintik-rintik hujan berebut singgah di telapak tangan. Hiruk pikuk asap dari secangkir capucino tersaji di atas meja lesehan. Aku memalingkan pandangan. Lalu menatap Jumi.
“Aku mengatakannya karena aku tidak mampu lagi untuk menahannya. Semakin sakit jika harus terus dipendam. Terlalu cepat, Fik?” suara Jumi bergetar. Persis seperti getar-getar cinta yang saat ini memenuhi seluruh nadinya. Jumi menatapku, mengharapkan jawaban. Jawaban dari akhir ceritanya di lesehan ini. Seteguk capucino menghangatkan tenggorokanku. Aku menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutku. Berharap Jumi puas dengan jawabanku. Ia sedikit terhibur.
Lama-lama lesehan ini ramai dikunjungi orang. Dua jam sudah kami di sini. Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku lihat di layarnya. Tertera nama Gugun. Tanganku sedikit gemetar. Sebentar aku melihat Jumi. Gejolak rasa bersalah menguliti tubuhku. Lebih-lebih ketika Jumi mengutarakan seluruh perasaannya tentang Gugun kepadaku. Gugun masih terus memanggil. Sedikit gugup, aku sedikit menjauh dari Jumi. Berusaha agar ia tidak mendengar semua perbincanganku dengan Gugun. “Jum! Tunggu sebentar, yach! Dari kakak!” kataku pada Jumi sambil meninggalkannya. Tentunya ia percaya dengan kebohonganku.
“Halo Gun!” sedikit ketakutan, aku mengecilkan suara.
“Fika! Tugas Metode Penelitian sudah siap? Aku kurang paham. Tolong ajarkan, Fik!”
“A..a…ku?” tanyaku gugup
‘Ia! Please!” jawabnya dengan penuh harap
“T…ta…ta…pi, aku rasa Gugun lebih paham dari aku!”
“Please, Fik! Aku nggak paham Metode Penelitian!”
“Ok, di pustaka wilayah, besok, jam 1!” sambungku tanpa ada keraguan.
“Ok, my friend!”
****
Jumi masih menikmati pandangannya yang hampa akan tujuan. Sedari tadi ia hanya membelai-belai gelas capucino itu. Belum seteguk pun diminumnya.
“Jum, ikut nggak belajar sama…”
Sebuah petir besar menyambar. Mengejutkan semua pengunjung lesehan. Termasuk aku dan Jumi. Kami menyaksikan beberapa pengunjung lesehan yang gaduh.
“Belajar? Belajar sama siapa?” Jumi melanjutkan kata-kataku yang belum selesai.
“Belajar…belajar…yach belajar!” jawabku gugup
“Tadi katanya belajar sama…”
“Maksud aku, kita belajar sama-sama!” Aku menjadi seorang pembohong ulung di keadaan ini. Berharap Jumi percaya dengan kata-kataku yang sedikit gugup. “Apalagi minggu depan kita semester, nggak apa-apalah sesekali kita belajar bareng!” sambungku.
Jumi menganggukkan kepalanya. Sedikit keberuntungan berpihak padaku. Jumi percaya. Untungnya, ia tidak meminta waktu belajarnya esok.
****