Selasa, 27 April 2010

proses kreatif penulisan cerpen oleh sastrawan ternama

Proses Kreatif Ahmad Tohari dalam RDP
December 11, 2006

“Waktu itu, kalau ada lubang yang digali, pasti akan ada orang yang dieksekusi. Maka hari itu, ketika saya melihat sebuah lubang digali, saya dan teman-teman berbondong-bondong ke kantor kelurahan untuk melihat siapa yang akan dieksekusi. Sebuah truk datang dan seorang turun dengan meloncat karena tangannya telah terikat ke belakang. Ia seorang pedagang kambing. Tubuhnya kurus. Ketika ia digiring ke tempat eksekusi, massa telah menjadi beringas. Ia dipukuli terus-menerus sampai tiba di lubang yang akan jadi persemayaman terakhirnya.

Sampai di sana telah ada empat orang pensiunan militer yang membawa senapan. Lalu eksekusi dimulai. Moncong senapan ditempelkan ke siku kanan si tertuduh, lalu pelatuk ditarik. Tubuh kurus itu terlempar ke belakang, siku kanannya otomatis patah. Tapi ia masih bisa berdiri. Kini, giliran siku kirinya. Peluru menembusnya dan patahlah siku kirinya. Lalu telinga kanannya yang ditembus peluru. Telinga itu hancur. Kemudian telinga kirinya. Rupanya, peluru yang diarahkan ke telinga kiri itu agak serong mengenai rahang. Rahang itu kemudian terlepas. Si tertuduh jatuh dalam lubang. Saya mengira semua telah berakhir. Tapi massa mengangkat tubuhnya dari dalam lubang. Lalu para jagal memuntahkan semua sisa peluru yang ada ke tubuh si tertuduh. Tubuhnya hancur dan sampai hari berikutnya, daging yang luluh lantak itu tak boleh dikuburkan.”

Kisah tentang kekejaman di tahun 1965 terhadap orang yang dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) itu, diceritakan oleh Ahmad Tohari, sastrawan kawakan Indonesia ketika ia diminta berbicara tentang proses kreatifnya dalam penciptaan Ronggeng Dukuh Paruk (RDP), trilogi novelnya yang diterjemahkan ke lima bahasa. Saat berbicara dalam diskusi sastra di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo pada Kamis (7/12) kemarin, Ahmad Tohari mengutip pengalamannya ketika ia remaja dan melihat beberapa eksekusi mati terhadap orang yang dituduh PKI.

Apa hubungan antara drama kekerasan yang memuakkan itu dengan proses kreatif dalam penciptaan RDP? Kata Ahmad Tohari, RDP adalah hasil dari pengalamannya menyaksikan kekerasan yang dilihatnya langsung sekitar tahun 1965 terhadap orang-orang komunis. Selain kekerasan, kemiskinan yang diakrabi Tohari sejak kecil juga menjadi alasan kenapa novel itu ditulis. Kekerasan dan kemiskinan, barangkali dua kata itulah alasan kenapa RDP harus ditulis.

Sampai Mei 1980, ia menunggu ada penulis yang menulis tentang pembantaian tahun 1965 itu. Sampai saat itu, ia merasa masih belum punya kemampuan menuliskannya. Tapi panantian Tohari tak kunjung berakhir. Akhirnya, kenekatan Tohari menulis tentang tragedi 1965 muncul. Kemudian terbitlah Kubah yang bercerita tentang seorang lelaki komunis yang pulang dari Pulau Buru. Tapi, novel itu tak memuaskan pertanyaan-pertanyaannya. Lalu RDP mulai ditulis.

Selama empat tahun, Tohari menulis novel itu. Bahkan ia sempat menulis ulang sebanyak tiga kali. Sebuah ketekunan yang kemudian membuahkan hasil. RDP jadi amat terkenal dan bahkan dijadikan bahan ajar tidak hanya di bidang sastra tapi juga kebudayaan dan sejarah. Duni ronggeng dalam RDP, adalah dunia yang diakrabi Tohari, meski ia jarang menonton pentas itu. Kehidupan pedesaan dengan untaian pemandangan alamnya, adalah dunia yang diakrabi Tohari juga. Tak heran, lukisan panorama pedesaan muncul begitu banyak dan begitu detail dalam RDP.

Dalam diskusi di TBJT kemarin, panorama alam di RDP sempat menjadi bahan diskusi menarik. Seorang penulis cerpen asal Solo, Joko Sumantri, melontarkan pernyataan bahwa pelukisan alam yang begitu banyak di RDP terkadang justru membosankan. Sebab hampir di tiap awal bab, pelukisan semacam itu muncul. Saya mengamini Joko Sumantri. Pelukisan alam di RDP memang kadang membosankan untuk dibaca secara detail. Apalagi pelukisan panorama pedesaan itu tak lebih sebagai latar dan bukan berfungsi sebagai metafor untuk mendukung jalan cerita.

Tapi Tohari menjawab justru pelukisan yang detail itulah bagian yang penting dari RDP. Ali Imron, Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mendampingi Tohari sebagai pembicara dalam diskusi itu, juga menyampaikan bahwa pelukisan alam di RDP bila dihayati sama sekali tidak membosankan. Apalagi bagi orang yang terbiasa tinggal di kota. Penulisan semacam itu membawa suasana baru bagi pembaca yang tak mengenal pedesaan secara baik. Jujur, saya tak begitu puas dengan jawaban yang dilontarkan Tohari dan Ali Imron soal pelukisan alam di RDP itu.

Yang menarik juga dari diskusi kemarin adalah tentang Rasus. Ali Imron mengidentikkan Rasus, kekasih Srintil dalam RDP, dengan Ahmad Tohari. Dia menyebutkan beberapa persamaan keduanya. Antara lain, keduanya akrab dengan kultur pedesaan. Selain itu, keduanya sama-sama menentang ronggeng karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Tapi Ahmad Tohari tak sepenuhnya mengamini. Menurutnya, seorang penulis yang baik adalah seorang yang bisa membebaskan diri dari tokohnya. Meski begitu, Tohari mengakui kalau ia tak sepenuhnya bisa membebaskan diri dari tokoh-tokohnya di RDP. Tohari mengakui ia kadang muncul pada diri Rasus. Tapi tak hanya Rasus. Ia juga muncul pada diri Marsusi yang mengendarai Harley Davidson. Ternyata, Tohari adalah penggemar Harley Davidson.

Kembali ke proses kreatif, Tohari mengatakan ada tiga tingkatan yang dialaminya sebagai pengarang. Pertama, tingkatan romantis. Pada tingkatan ini ia terpengaruh oleh sastra Jawa yang diakrabinya. Tingkatan kedua adalah romantis religius. Pada tingkatan ini ia banyak dipengaruhi karangan-karangan Buya Hamka yang mengentalkan nunsa romantis religius. Tingkatan ketiga yang dialaminya adalah realisme. Ia terpesona pada realisme ketika ia membaca Pram, Sanusi Pane, Mochtar Lubis, dan banyak lagi.

tips menulis cerpen

tips menulis cerpen
Para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika mulai menyusun cerpen mereka apalagi kita akan menulis cerpen yang bertolak dari pengalaman kita. kita banyak berkhayal di sana. bukan hanya sekedar menghayal tapi, buatlah tulisan kita semenarik mungkin. khayalan kita harus logis dan patut di baca. Kelihatannya aneh, tapi coba Anda pikirkan baik-baik, karena saran ini bisa diterapkan oleh penulis mana saja. Nah, ikuti langkah- langkah perencanaan seperti yang disarankan di bawah kalau Anda ingin menulis cerpen-cerpen yang hebat.
misalnya dengan cara:
Taruh seseorang di atas pohon: munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita.
Lempari dia dengan batu: Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Contoh: Kesalahpahaman, kesalahan identitas, kesempatan yang hilang, dan sebagainya.
Buat dia turun: Tunjukkan bagaimana tokoh Anda akhirnya mengatasi masalah itu. Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Contoh: Kekuatan cinta, kebaikan mengalahkan kejahatan, kejujuran adalah kebijakan terbaik, persatuan membawa kekuatan, dsb.
Ketika Anda selesai menulis, selalu (dan selalu) periksa kembali pekerjaan Anda dan perhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa. Jangan menyia-nyiakan kerja keras Anda dengan menampilkan kesan tidak profesional pada pembaca Anda.
Praktekkan perencanaan sederhana ini pada tulisan Anda selanjutnya.


#selain beberapa hal di atas sebelum menulis cerpen kita harus menentukan tema agar tulisan kita tidak berlari kemana-mana jadi, ikatlah tulisan itu dengan tema' Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.
Ketika menulis cerpen, bisa jadi kita akan terlalu menaruh perhatian pada satu bagian saja seperti menciptakan penokohan, penggambaran hal-hal yang ada, dialog atau apapun juga, untuk itu, kita harus ingat bahwa kata-kata yang berlebihan dapat mengaburkan inti cerita itu sendiri.

#Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas. Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.

#Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.

#Setting
Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak.

#Penokohan
Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.

#Dialog
Jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita.
#Alur
Buat paragraf pembuka yang menarik yang cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona.

#Baca ulang
Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali.


bagi penulis pemula coba sedikit terpkan tips ini. jika belum jadi coba dan terus coba menulis. jangan pernah takut menulis. untuk menjadi penulis besar perlu adanya latihan dan doa.contohlah penyair dan penulis-penulis besar lihat proses kreatif mereka. tiada yang langsung tenar. buktikan Anda Bisa!!!
silakan mencoba!

Selasa, 20 April 2010

TUGAS

1. Ingat-ingatlah kembali pengalaman yang telah anda alami!
2. Rangkaikan pengalaman anda menjadi sebuah cerpen yang bertolak dari pengalaman itu!
3. Mulailah menulis cerpen!
4. Munculkan hal-hal yang menarik.